Tentang Web Designer

3m — Butuh 3 menit untuk membaca artikel ini

Belajar Menjadi Web Designer

Saya sedikit bad mood hari ini. Saat saya pulang, lampu padam begitu saya membuka pintu kamar. Makan malam saya adalah capcay paling tidak enak yang pernah saya makan. Dan yang paling membuat saya kesal adalah Adonit Jot yang patah karena terjatuh.

Sepertinya menulis blog dapat mengobati rasa kesalku.

Saat saya mendesain website pertama saya, saya masih menggunakan layout table, hasil slicing dari Photoshop. Saya lebih mementingkan desain daripada coding. Jadi selama setahun penuh saya hanya mengembangkan desain saya tanpa begitu mempedulikan coding. Ternyata ini membuat perkembangan skill Web Design saya menjadi sangat lambat. Saat itu, saya lebih cocok disebut Graphic Designer daripada Web Designer.

Suatu hari saya dihadapkan pada situasi dimana saya harus bisa membuat website dengan HTML dan CSS. No more Photoshop slicing! Saya cukup stress saat itu dan terus bekerja pagi sampai malam. Tapi hanya dalam 3 bulan, perkembangan desain web saya sudah melebihi apa yang saya pelajari 1 tahun sebelumnya.

Terus terang, Web Design adalah pekerjaan yang sulit. Mahir membuat desain web dengan Photoshop tidak membuat kamu menjadi seorang Web Designer. Mahir dalam coding HTML, CSS, dan JavaScript juga tidak membuat kamu menjadi seorang Web Designer. Web Design membutuhkan skill desain sekaligus coding.

Berkaitan dengan hal di atas, sampai saat ini masih saja terjadi perdebatan antara Web Designer yang tidak bisa coding dan bisa coding. Banyak yang mengatakan kalau Web Designer yang sebenarnya adalah Web Designer yang bisa design dan coding.

Saya lebih suka Web Designer yang bisa design dan coding. Bekerja dengan Web Designer seperti ini jauh lebih mudah. Coba saja lihat website buatan Web Designer Coder yang tidak bisa design. Memang mereka mampu mengerjakan website mereka tanpa bantuan. Tapi biasanya website mereka terlihat seperti brosur atau poster jadul, hanya saja dalam bentuk website.

Bagaimana dengan Web Designer Non-Coder? Karena mereka tidak mampu mengubah desain mereka sendiri ke dalam bentuk web, mereka harus bergantung pada Coder. Setidaknya mereka tidak merusak wajah web dengan website berpenampilan brosur jadul. Tapi Web Designer Non-Coder memiliki keterbatasan. Untuk mendesain website yang baik, kamu harus mengerti luar dan dalam website. Inilah yang akan membedakan Web Designer yang hebat dengan Web Designer pada umumnya.

Jadi bagaimana cara saya belajar untuk menjadi Web Designer? Cara yang paling ampuh adalah dengan membongkar desain website orang lain. Saya suka sekali melihat source code website yang bagus. Mengamati pekerjaan yang lebih bagus menjadikan kita lebih bagus. Saya juga senang mengamati detil desain yang sering kali menjadi pembeda antara website yang bagus dengan yang biasa saja. Membaca banyak buku dan blog Web Design juga sangat membantu proses pembelajaran.

Cobalah untuk mempertajam coding dan desain apabila kamu ingin menjadi Web Designer. Sebagai Web Designer, kamu tidak harus expert dalam semua bahasa pemrograman. Utamakan HTML dan CSS, pelajari JavaScript apabila kamu ingin lebih. Pertajam juga sense desain seperti warna, typography, layout, dan lainnya.

Pesan terakhir dari saya. Kalau kamu bisa PHP, SQL, HTML, CSS, dan JavaScript tapi tidak bisa design, tolong tulis “Web Programmer” pada kartu namamu. Kalau kamu bisa design tapi tidak bisa HTML dan CSS, tolong belajar atau setidaknya mengerti sebelum kamu menulis “Web Designer” pada kartu namamu.

4 thoughts on “Tentang Web Designer

  1. ya saya sangat setuju web desainer itu bukan pekerjaan yang mudah..harus punya imajinasi yang kuat dan logika yang kuat juga..:D

Leave a Comment