Memahami Perintah Client

2m — Butuh 2 menit untuk membaca artikel ini

“Besarkan logonya!” atau “Ganti tombol beli dengan warna kuning!” Beberapa client berkomunikasi seperti ini. Semua designer tidak menyukainya—sangat tidak menyukainya.

Saya telah mengerjakan desain website untuk client selama 5 tahun. Seperti designer lain, saya selalu kesal dengan “perintah” client. Sering kali saya berpikir kalau mereka bukan designer—mereka tidak tau apa yang mereka omongkan.

Namun ini adalah hukum alam yang akan terjadi terus-menerus dan tidak bisa dihindari selama saya menjalankan bisnis design agency. Tidak ada gunanya menentang client, masalah hanya akan menjadi semakin besar. Rambut saya akan memutih lebih cepat daripada George Clooney apabila mereka mogok bayar. Jadi saya memutuskan untuk merubah persepsi saya. Saya tidak lagi kesal. Saya mempunyai keyakinan bahwa selalu ada jalan tengah antara permintaan client dengan design yang kita inginkan (baca: design yang tepat untuk end user).

“Besarkan logonya!” berarti bahwa client tidak melihat logo tersebut dalam satu kali kedipan mata. Client bertitah seperti itu karena kebanyakan orang lebih gampang mengutarakan ide mereka daripada mengutarakan alasan atas ketidakpuasan mereka. Lagipula semua orang ingin menjadi designer, walau tidak semua orang mampu melakukannya. Tapi jangan pernah mengatakan ini kepada client.

Jadi apa yang saya lakukan pada situasi ini? Mengikuti perintah client saya—membesarkan logo tersebut—kemudian mempresentasikannya kembali kepada client tersebut? Tentu saja tidak. Menyelesaikan masalah design tentu saja tidak semudah itu. Untungnya saya terlahir sebagai seorang pemberontak. Sifat yang seringkali mempengaruhi saya untuk mengambil keputusan design yang lebih rasional.

“Besarkan logonya!” berarti saya harus mencari solusi untuk membuat logo tersebut memiliki visual yang lebih kuat—bukan hanya semata-mata membesarkan logo tersebut—karena seringkali membesarkan logo tidak memberikan perbedaan yang signifikan. Akhirnya saya tidak mengubah ukuran logo. Saya menambah whitespace dan mengubah warna navigasi yang berada dekat pada logo tersebut menjadi lebih netral. Dalam situasi ini, menurut saya—merupakan solusi yang lebih baik dibanding menampilkan logo segede gaban.

Respon dari client? “Bagus, logonya sekarang lebih besar dan lebih bagus. Saya menyukainya.” Saya hanya tersenyum dan mengiyakan mereka. Saya selalu senang apabila seorang client senang dengan pekerjaan saya.

Tentang Web Design

2m — Butuh 2 menit untuk membaca artikel ini

Aku pernah mendengar seorang praktisi internet mengatakan kalau website yang menjual barang murah lebih baik jelek atau seadanya. Sama seperti tempat makan. Kalau warteg murah penampilannya seperti restoran mewah, apakah ada orang akan beranggapan kalau warteg itu murah? Apakah mereka berani masuk?

Aku tidak setuju dengan pernyataan itu. Berbeda dengan bisnis online, website yang didesain dengan baik akan berkomunikasi dengan baik dengan penggunanya. Sebagai perbandingannya, apabila 2 website menjual barang dengan harga Rp 10.000, 1 website dengan desain yang bagus, 1 website dengan desain seadanya. Mana yang kamu pilih?

Restoran seringkali tidak bisa memperlihatkan seluruh menu dan harganya pada pelanggan sebelum pelanggan itu masuk. Maka pelanggan akan menilai dari penampilan restoran apakah harga mereka murah atau mahal. Sedangkan website dapat diakses oleh semua orang dan mereka akan mendapatkan informasi yang sama. Karena itu, website dengan desain yang baik selalu merupakan pilihan yang lebih baik.

Tugas seorang web designer adalah membuat website yang berkomunikasi dengan baik. Komunikasi yang mengatasi masalah yang dihadapi oleh client. Masalah tingginya bounce rate atau rendahnya conversion rate atau lamanya waktu loading atau masalah lainnya. Dengarkan client kamu, cari tau masalahnya, atasi dengan desain. Berbeda dengan artist yang lebih mengutamakan visual, web designer adalah pekerjaan dimana seseorang harus memperhatikan content, visual, performance, dan usability untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Yang menjadi pertanyaan adalah mana yang lebih baik, memiliki website tapi jelek atau tidak memiliki website? Aku harus menjawab lebih baik tidak memiliki website. Dengan tidak memiliki website, kamu mungkin tidak akan dikenal oleh banyak orang. Tapi dengan memiliki website jelek, kamu akan memancarkan aura yang tidak baik untuk orang-orang yang melihatnya. Orang lain akan mengganggap brand kamu jelek atau tidak meyakinkan.

Jadi apabila adalah seorang web designer, tunjukkan hanya hasil terbaikmu pada orang lain. Jangan tunjukkan sesuatu yang hanya akan mencemarkan namamu. Apabila kamu sedang mencari web designer, jangan terpancing dengan harga murah. Perhatikan portfolio mereka. Jangan biarkan mereka merusak brand yang telah kamu bangun dengan susah payah.

Update WordPress Tanpa FTP

1m — Butuh 1 menit untuk membaca artikel ini

WordPress merupakan CMS yang memiliki fitur update yang sangat mudah. Namun ada kemungkinan kemudahan itu terhalangi saat kamu menjumpai halaman seperti di bawah ini ketika tombol update WordPress kamu tekan.

Update WordPress Tanpa FTP

Ada beberapa cara untuk menghindari metode update jalur legal ini. Cara paling mudah adalah dengan mengedit wp-config.php. Paste koding berikut pada baris paling bawah wp-config.php yang terdapat di root instalasi WordPress.

/** Update without FTP credentials */
define('FS_METHOD','direct');

Setelah save, tidak ada lagi FTP yang akan menghalangi update WordPress dan plugin pada website kamu.